Tampilkan postingan dengan label SYIAR ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYIAR ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2016

Dapatkah Amal Ibadah Bangkrut Di Akhirat?

Ilustrasi: http://kpkcorner.blogspot.co.id/. • Mediamuallaf.com
Oleh: Hasrian Rudi Setiawan, MPdI
Harta, pangkat, jabatan, dan anak merupakan hal yang sering dibanggakan oleh setiap individu manusia. Demikian juga dengan amal ibadah seringkali membuat seseorang membanggakan dirinya dengan amal yang ia lakukan. Padahal amal ibadah merupakan bekal yang kelak akan dibawa setiap individu manusia kepada Allah bukan untuk dibanggakan atau disombongkan dihadapan manusia lain. Terkadang sebagian orang beranggapan bahwa amal ibadah yang selama ini ia lakukan seperti salat, puasa, zakat, haji dan lainnya dapat membawanya sebagai penghuni surga. Padahal ada hal yang lain yang perlu dilakukan oleh setiap hamba Allah yaitu membina dengan baik hubungan sosial dengan sesama manusia, dan tidak menzalimi orang lain, dengan demikian untuk menjadi penghuni surga Allah setiap individu tidak hanya melakukan hubungan secara vertikal saja (beribadah dengan Allah), namun juga harus melakukan hubungan secara horizontal (berbuat baik dengan sesama manusia).

Dalam hadis Rasulullah SAW menjelaskan, yang artinya: Suatu ketika Rasulullah SAW, bertanya kepada sahabat-sahabatnya,"Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda". Kemudian Rasulullah SAW berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala salat, pahala puasa, pahala zakatnya dan pahala hajinya, tapi ketika hidup di dunia dia mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti terhadap orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada orang yang di zaliminya. Semuanya dia bayarkan sampai tidak ada yang tersisa lagi pahala amal sholehnya. Tetapi orang yang mengadu ternyata masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu. Dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka. Kata Rasulullah selanjutnya, "Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka". (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya).

Dalam hadis tersebut, mengingatkan kepada kita untuk tidak mengabaikan terhadap amal ibadah yang bersifat horizontal (berhubungan dengan sesama manusia). Maka, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang bangkrut di akhirat nanti, dikarenakan kita mengabaikan terhadap amal ibadah yang bersifat horizontal (berhubungan dengan sesama manusia).Maka hal yang dapat dilakukan adalah melakukan dan menjaga hubungan silaturahmi. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW, yang artinya: "Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ibnu Majah).

Berdasarkan hadis nabi tersebut, bahwa hal yang dapat mendatangkan kebaikan adalah perbuatan baik yang dilakukan dan menghubungkan silaturahim, sedangkan hal yang dapat mendatangkan keburukan adalah orang yang melakukan kejahatan dan memutuskan hubungan silaturahim. Maka, harus ada upaya dalam menghindari kebangkrutan amal di akhirat nanti. Karena terkadang sengaja atau tanpa disengaja kita melakukan kezaliman kepada orang lain. Karena itu, dalam melakukan amal ibadah yang sifatnya horizontal (hubungan kepada sesama manusia) ada beberapa hal yang harus diketahui, yaitu: Pertama, mengetahui hakikat silaturahmi. Masyarakat kita, silaturahim diartikan sebagai kegiatan kunjung-mengunjungi, saling bertegur sapa, saling menolong, dan saling berbuat kebaikan. Namun, sesungguhnya bukan sebatas itu makna silaturahim sesungguhnya. Silaturahim adalah menghubungkan kasih sayang antar sesama. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa terdapat fadhilah orang yang menghubungkan silaturahim. Hal ini disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW, yang artinya: "Barang siapa yang ingin rizkinya diluaskan dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menghubungkan tali silaturahim". (HR. Bukhari dan Muslim). Terdapat tips dari Rasulullah SAW, agar terjalin saling mencintai dengan sesama muslim, diantaranya yaitu: tebarkan salam, menghubungkan tali silaturahim dan memberi makan kepada yang membutuhkan. Karena itu, silaturahim menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahim tidak hanya tampilan lahiriah saja, namun harus melibatkan hati dalam melakukannya.

Kedua, hakikat memaafkan sesama manusia. Dalam bukunya yang berjudul "Membumikan Alqur'an" Dr M Quraish Shihab menyatakan bahwa. Kata maaf dalam Alqu'ran disebutkan dengan kata al-afwu yang berarti "menghapus". Hal ini karena orang yang memaafkan dapat menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Dalam arti kata bahwa orang yang memaafkan menghapus dalam hatinya bekas luka di dalam hati, dan menghapus dendam yang membara yang ada. Memaafkan adalah kerja hati yang sangat berat. Hal ini karena harus benar-benar berupaya menghilangkan segala noda kesalahan orang lain dari relung hatinya. Memang sulit untuk melakukannya, namun harus tetap diupayakan. Adapun caranya dengan mengkondisikan hati secara terus menerus agar benar-benar bisa mengikhlaskan kesalahan orang lain alias memaafkannya.

Dengan demikian amal seorang muslim yang taat beribadah kepada Allah dapat mengalami kebangkrutan di akhirat kelak, jika ia melakukan kezaliman kepada orang lain. Karena itu, sebagai seorang muslim harus dapat menyeimbangkan antara hubungan dengan Allah dengan hubungan dengan manusia. Dan apabila pernah melakukan kezaliman kepada orang lain maka segeralah untuk meminta maaf kepada orang tersebut.

• Penulis adalah Dosen FAI UMSU.

Positive Thinking Terhadap Allah

Ilustrasi: http://www.putramelayu.web.id/. • Mediamuallaf.com
Oleh: Lidia, SPdI
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan struktur yang paling baik dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Struktur manusia terdiri dari unsur-unsur jasmani, rohani, nafs, dan iman (Sutoyo, 2007: 66). Bahkan kesempurnaan struktur manusia tersebut disebutkan dalam firman Allah SWT, yang artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tin: 4). Potensi yang diberikan Allah kepada manusia adalah diberikan akal pikiran. Allah menganugerahkan kepada manusia akal pikiran sebagai kunci untuk memperoleh petunjuk terhadap segala hal, termasuk untuk mendapatkan sesuatu kebenaran. Akal juga merupakan kendaran pengetahuan, serta pohon yang membuahkan istiqomah dan konsistensi dalam kebenaran, karena itu, manusia baru bisa menjadi manusia kalau ada akalnya.

Positive thingking adalah salah satu akhlak mahmudah (terpuji). Positive thingkingsecara sederhana dapat kita artikan dengan berprasangka baik atau berpikir positif (Tafkir al-Ijabiy). Menurut Viera Biffer positive thingking adalah suatu sikap mengambil manfaat dengan menggunakan akal kesadaran dengan penuh kerelaan dalam bentuk yang positif. Positive thingking merupakan suatu cara jitu dalam menghadapi kehidupan, yaitu dengan cara memusatkan pikiran kepada hal yang sifatnya positif dalam kondisi bagaimanapun sebagai ganti dari memusatkan pikiran menuju sesuatu yang negatif.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Allah mengasihi seluruh makhluk-Nya, tidak peduli apakah makhluk tersebut taat atau durhaka, muslim atau kafir. Bahkan, binatang dan tumbuh-tumbuhan pun dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, yang artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya”. (QS. Hud: 6).

Dalam kehidupan ini seringkali kita mendapatkan ujian dan cobaan, terkadang ujian dan cobaan tersebut berupa kenikmatan hidup yang dapat melalaikan kita, dan terkadang pula ujian dan cobaan tersebut berupa kesengsaraan dan kesulitan, yang menyebabkan seseorang terkadang frustasi dalam menjalaninya. Kita terkadang berpikir bahwa Allah SWT tidak sayang kepada kita. Padahal, dengan cobaan kesulitan tersebut, justru Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diri kita. Allah SWT hendak mendidik dan menempa kita agar menjadi manusia yang unggul. Selain itu, dibalik cobaan tersebut Allah SWT telah menyiapkan karunia yang besar bagi kita ketika lulus dari cobaan. 

Tidak ada alasan apapun untuk kita berfikir negatif kepada Allah SWT. Karena hal tersebut merupakan akhlak mazmumah (tercela) di hadapan Allah SWT, dan juga akan merugikan individu yang berprasangka buruk kepada Allah, sebab akan menjadikan seseorang menjadi pesimis, kehilangan harapan dan putus asa. Karena itu, sebagai seorang muslim harus yakin bahwa segala sesuatu yang telah Allah takdirkan adalah merupakan hal yang terbaik bagi kita. Kuncinya, berpikir positif terhadap ketentuan Allah SWT. Sebab, boleh jadi apa yang menurut kita baik, sebenarnya tidak baik bagi kita. Sebaliknya, boleh jadi apa yang menurut kita tidak baik, sebenarnya baik bagi kita. Hal ini sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 216).
Karena itu, sebagai seorang muslim kita wajib berprasangka baik kepada Allah atas takdir yang telah ditentukannya. Adapun orang yang berprasangka baik kepada Allah, pada umumnya memiliki kriteria, yaitu: beriman kepada Allah, bernilai luhur, selalu mencari jalan keluar atas segala masalah yang menimpanya, dan tidak membiarkan masalah dan kesulitan mempengaruhi kehidupannya.

• Penulis adalah Alumni Fakultas Agama Islam UMSU.

Minggu, 07 Agustus 2016

Allah Menjamin Rezeki Setiap Makhluk

Ilustrasi: http://layarberita.com/. • Mediamuallaf.com
Oleh: Lidia, SPdI
Sungguh seandainya salah seorang diantara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, dari pada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak”, (HR. Bukhari dan Muslim).

Seringkali masalah keuangan membuat kita gelisah, seakan-akan kita menganggap bahwa rezeki yang kita miliki tidak lancar bahkan terkadang kita khawatir bila tidak ada bagian rezeki yang dihadirkan untuk kita.

Di zaman sekarang ini, dimana persaingan semakin ketat, lapangan pekerjaan pun terbatas, terkadang membuat orang semakin pesimis terhadap bagaimana untuk mendapatkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup. Rezeki setiap makhluk sebenarnya telah dijamin oleh Allah, selama manusia hidup di dunia. Setiap makhluk telah Allah siapkan rezekinya masing-masing.

Namun dalam meraih rezeki dari Allah tersebut manusia harus berusaha untuk mendapatkannya, sebab tanpa adanya usaha mustahil seseorang dapat mendapatkan rezeki yang ia inginkan tersebut. Adapun orang yang sulit untuk mendapatkan rezekinya dapat disebabkan oleh dua hal yaitu :

Pertama, kurang berusaha untuk mendapatkan rezeki dari Allah (malas bekerja). Orang yang malas berusaha atau malas bekerja tentunya mustahil ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Karena itu Allah dan rasulnya memerintahkan kepada manusia untuk bekerja mendapatkan rezeki dan karunia Allah. Bahkan Rasullullah SAW mengatakan, bahwa seseorang yang bekerja sebagai pemikul kayu bakar lebih mulia dibandingkan orang yang meminta-minta.

Hal ini sebagaimana hadist nabi, yang artinya dari Abu Huraira ra, Ia berkata, ”Rasullullah SAW bersabda : Sungguh seandainya salah seorang diantara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, dari pada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak”, (HR. Bukhari dan Muslim).
  
Dalam hadist tersebut menjelaskan kepada kita bahwa orang yang malas bekerja akan sulit untuk mendapatkan rezeki dan karunia Allah. Sebab ia hanya berharap tanpa adanya usaha untuk mendapatkannya. Dalam Alqur'an Allah SWT mengingatkan kepada kita yang artinya, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah masib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka”, (Qs. Ar Ra'du: 11).

Kedua, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi setiap makhluknya. Setelah berusaha dengan maksimal untuk mendapatkan rezeki yang diinginkan, namun demikian juga tidak mendapatkan sesuai dengan yang diharapkan. Maka sebagai seorang muslim kita wajib berbaik sangka terhadap Allah, Karena sesuatu yang ditakdirkan Allah kepada kita merupakan hal yang terbaik bagi kita maka sudah sepantasnya kita menyakini bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita baik untuk dunia kita maupun akhirat kita.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, ”Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”, (Qs Al-Baqarah: 216).

Dengan demikian kekhawatiran kita ataupun keraguan kita terhadap rezeki yang telah dijamin oleh Allah merupakan tanda betapa kurangnya keiman kita kepada Allah. Kurangnya iman juga terlihat ketika kita lebih memilih rajin untuk mencari rezeki ketimbang rajin untuk beribadah kepada Allah. Keteledoran kita dalam beribadah kepada Allah membuktikan butanya mata hati kita, karena kita lebih mementingkan dunia dari pada akhirat. Telah dijelaskan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana hadits nabi yang artinya, ”Berapa banyak binatang yang melata yang tidak sanggup membawa rezekinya (makanan kebutuhannya). Allah yang menjamin rezekinya, juga terhadap kamu”, (QS Al Ankabut: 60).

Dalam mencari rezeki Allah tersebut hendaknya kita menggunakan cara-cara yang baik, tidak melanggar hukum dan apalagi bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab sebanyak apapun harta atau uang yang didapat apabila didapat dengan cara yang tidak baik, maka tidak akan mendapatkan sesuatu keberkahan dari Allah sebab hidup akan terasa indah bila mencari berkah dari Allah.

• Penulis adalah Alumni Fakultas Agama Islam UMSU.

Selasa, 02 Agustus 2016

Pesan Untuk Muallaf Agar Iman Tak Goyah

Ilustrasi: http://www.konfrontasi.com. • Mediamuallaf.com

Untuk jatuh cinta kepada Islam bukanlah perkara yang sulit, terbukti semakin banyak orang yang yakin dengan Islam dan memutuskan untuk bersyahadat. Namun, tak sedikit para muallaf yang menemui kesulitan dalam mempertahankan keyakinan barunya terutama di kawasan minoritas.

Banyak muallaf yang mendapatkan diskriminasi atau penolakkan hingga kesulitan dalam meng-akses dan memahami informasi tentang Islam.Untuk itu, berikut lima (5) hal yang perlu dilakukan para muallaf agar tetap pada keyakinan Islam di tengah banyaknya cobaan yang datang.

Pertama, beri waktu diri anda untuk belajar. Jangan malas untuk belajar menggali pengetahuan tentang agama Islam. Sebab setan akan melakukan apa saja agar manusia terjerumus dan terperangkap dalam perbuatan dosa. Rancangkanlah jadwal dan target yang ingin dicapai ketika mempelajari cara beribadah dalam Islam. Tetap sabar karena semua ada prosesnya.

Kedua, hindari membandingkan diri Anda dengan orang lain. Perlu diakui kita akan sangat mudah untuk melakukan perbandingan. Tapi yakinlah, membanding-bandingkan diri anda dengan Muslim yang lahir dan tumbuh dari lingkungan Islam akan menyulitkan anda untuk berkembang. Jangan berkecil hati karena pengetahuan Anda soal Islam lebih rendah dari yang lain. Pengetahuan Anda yang lebih sedikit dari orang lain sangat bisa dimaklumi karena Anda masih dalam tahap belajar.

Ketiga, berprilakulah sewajarnya. Bagi muallaf yang tinggal dikawasan minoritas Muslim sangat disarankan untuk menjaga perilaku sewajar mungkin sesuai dengan adat istiadat yang dijunjung. Sebab tidak semua orang memiliki pandangan yang sama dengan apa yang kita yakini.

Keempat, cukup sopan dalam berpakaian. Berhubung tidak semua orang bisa menerima apa yang kita lakukan, cukuplah berpakaian dengan sopan. Anda tidak perlu memakai atribut beribadah yang sangat menyolok atau dapat mencirikan Anda sebagai muslim, Kenakan pakaian sesuai pada tempatnya.

Kelima, selalu shalat dan berdo’a terutama saat dalam keraguan. Jangan pernah lalai dalam menjalankan ibadah terutama sholat lima waktu. Jika Anda berada dilingkungan minoritas muslim disarankan untuk tidak shalat didepan umum. Lakukanlah shalat secara privasi. (Rpl)

Minggu, 24 Juli 2016

Kriteria Memilih Pasangan Hidup Dalam Islam

Ilustrasi: http://www.kabarmakkah.com/. • Mediamuallaf.com
Oleh: Hasrian Rudi Setiawan, MPdI
Tidak mudah memang memilih pendamping hidup yang sesuai dengan kriteria. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menentukan siapakah orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup. Dalam kenyataannya seseorang sering salah dalam mengambil keputusan dalam memilih pasangan hidupnya yang berujung dengan penyesalan dikemudian hari. Dalam memilih pasangan hidup memang seseorang terkadang lebih mengedepankan perasaan, sehingga ketika telah menemukan seseorang yang dirasa telah cocok, maka secara spontanitas terkadang seseorang sampai mengabaikan hal-hal yang seharusnya menjadi kriteria wajib dalam ajaran Islam dalam memilih pasangan hidup. Padahal kriteria dalam memilih pasangan hidup yang diajarkan dalam Islam merupakan hal yang dapat menentukan baik tidaknya kelangsungan keluarga kelak.  

Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk juga dalam urusan mencari pasangan hidup. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa dalam mencari pasangan hidup, paling tidak ada sedikitnya empat kriteria. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW, yang artinya: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya, engkau akan beruntung”. (HR Bukhari).

Dalam hadits tersebut. Secara jelas disebutkan bagaimana kriteria seseorang yang akan dijadikan pendamping hidup yang baik. Walaupun dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menyebutkan dengan mendahulukan harta, nasab, dan kecantikan namun Rasulullah SAW dalam akhir hadistnya mengatakan bahwa sebaiknya mengutamakan mereka yang baik agamanya. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya agama  merupakan kriteria paling utama dalam memilih calon pendamping hidup. Adapun penjelasan kriteria dalam memilih pasangan hidup, yaitu: Pertama, Pilihlah calon pasangan yang taat dalam beragama (yang baik agamanya). Dalam memilih calon pasangan hidup hendaknya hal pertama dan utama yang harus menjadi kriteria bagi seorang muslim adalah orang yang baik agamanya. Sebab orang yang baik agamanya akan membawa pasangan hidupnya kepada ketaatan kepada Allah SWT, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Pasangan seperti ini akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun sebaliknya jangan menjadikan orang yang bebeda agama sebagai calon pasangan hidup, karena mereka akan menjauhkan dari ketaatan kepada Allah. Bahkan dalam Alqur'an dijelaskan bahwa dilarang menikahi seseorang yang berbeda agama/keyakinan walupun itu menarik hati. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alqur'an yang artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (QS. Al-Baqarah: 221). Karena itu, Jika tidak bisa mendapatkan tiga kriteria lainnya yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah SAW seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas tadi (harta, nasab dan kecantikan), maka minimal hal yang harus di dapat dalam memilih calon pasangan hidup adalah satu kriteria ini, yaitu orang yang baik agamanya. Karena itu, carilah calon pasangan hidup yang taat kepada aturan agama.

Kedua, Pilihlah calon pasangan hidup yang cantik atau tampan. Dalam memilih pasangan hidup tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang ingin mendapatkan pasangan yang cantik atau tampan dan enak dipandang mata. Hal ini diperbolehkan oleh Rasulullah SAW, bahkan dianjurkan dalam mencari calon pasangan dan menjadi salah satu faktor penunjang kehidupan keluarga. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya: “Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram dengannya”. (QS. ar-Ruum: 21). Kemudian dalam hadits lain juga disebutkan, yang artinya: “Jika memandangnya, membuat suami senang”. (HR. Abu Dawud). Karena itu, dalam Islam ketika seseorang hendak dilamar ketika dalam masa taaruf seseorang diperbolehkan untuk agar keduanya saling melihat ketika hendak dilamar. Sehingga baik laki-laki maupun perempuan dapat mempertimbangkan wanita yang yang hendak dilamarnya dari segi fisik. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW, yang artinya: “Sudahkah engkau melihatnya?” Sahabat tersebut berkata, “Belum”. Beliau lalu bersabda, “Pergilah kepadanya dan lihatlah ia, sebab pada mata orang-orang Anshar terdapat sesuatu”. (HR. Muslim).

Ketiga, Pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki nasab yang baik. Seseorang yang hendak memiliki calon pasangan hidupnya hendaknya mengetahui nasab atau silsilah keturunan calon yang akan dinikahinya, sebab jika calon yang akan dinikahinya tersebut berasal dari keluarga yang baik-baik maka kemungkinan anaknya juga baik. Karena keluarga yang baik pada dasarnya akan memberikan pendidikan dan teladan yang baik kepada anaknya. Dengan demikian ketika memilih pasangan hidup maka lihatlah nasab atau silsilah keturunan calon yang akan dijadikan pasangan hidup.

Keempat, Setara hartanya. Rasulullah SAW juga menganjurkan agar memilih calon pasangan hidup yang setara status sosialnya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang menikah kemudian terjadi perceraian, disebabkan karena perbedaan status sosial tersebut. Hal tersebut pernah terjadi pada sahabat nabi, yaitu Zaid ibn Haritsah ra, yang dari golongan keluarga biasa dinikahkan dengan Zainab ibn  Jahsy ra, yaitu wanita cantik dari golongan keluarga terpandang. Hasilnya  pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Karena itu, hendaknya dalam memilih calon pasangan hidup harus melihat kesetaraan status sosialnya. Namun, dalam memilih calon pasangan hidup dari keempat kriteria itu, faktor agama yang seharusnya menjadi prioritas yang pertama dan utama dalam memilih calon pasangan hidup.

• Penulis adalah Dosen FAI UMSU.

Jumat, 22 Juli 2016

Keutamaan Hari Jumat

Ilustrasi: http://blog.berdakwah.net/. • Mediamuallaf.com
Ada beberapa hadis yang menyebutkan keutamaan hari Jumat. Di antaranya:

Hari Jumat merupakan hari raya tiap pekan
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ عِيدًا، فَاغْتَسِلُوا، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya saat ini adalah hari yang dijadikan oleh Allah sebagai hari raya untuk kalian. Karena itu, mandilah dan kalian harus menggosok gigi”. (H.r. Tabrani dalam Mu’jam Ash-Shaghir, dan dinilai sahih oleh Al-Albani)

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ يَوْمَ الْجُمْعَة يَوْمُ عِيدٍ ، فَلَا تَجْعَلُوا يَوْم عِيدكُمْ يَوْم صِيَامكُمْ , إِلَّا أَنْ تَصُومُوا قَبْله أَوْ بَعْده

“Sesungguhnya, hari Jumat adalah hari raya. Karena itu, janganlah kalian jadikan hari raya kalian ini sebagai hari untuk berpuasa, kecuali jika kalian berpuasa sebelum atau sesudah hari Jumat”. (H.r. Ahmad dan Hakim; dinilai oleh Syu’aib Al-Arnauth)

Hari Jumat merupakan “yaumul mazid” (hari tambahan) bagi penduduk surga
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أتاني جبريل وفي يده كالمرآة البيضاء فيها كالنكتة السوداء فقلت يا جبريل ما هذه قال الجمعة قال قلت وما الجمعة قال لكم فيها خير قال قلت وما لنا فيها قال يكون عيدا لك ولقومك من بعدك ويكون اليهود والنصارى تبعا لك قال قلت وما لنا فيها قال لكم فيها ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله فيها شيئا من الدنيا والآخرة هو له قسم إلا أعطاه إياه أو ليس بقسم إلا ادخر له عنده ما هو أفضل منه أو يتعوذ به من شر هو عليه مكتوب إلا صرف عنه من البلاء ما هو أعظم منه قال قلت له وما هذه النكتة فيها قال هي الساعة هي تقوم يوم الجمعة وهو عندنا سيد الأيام ونحن ندعوه يوم القيامة ويوم المزيد قال قلت مم ذاك قال لأن ربك تبارك وتعالى اتخذ في الجنة واديا من مسك أبيض فإذا كان يوم الجمعة هبط من عليين على كرسيه تبارك وتعالى ثم حف الكرسي بمنابر من ذهب مكللة بالجواهر ثم يجيء النبيون حتى يجلسوا عليها وينزل أهل الغرف حتى يجلسوا على ذلك الكثيب ثم يتجلى لهم ربك تبارك وتعالى ثم يقول سلوني أعطكم قال فيسألونه الرضى فيقول رضائي أحلكم داري وأنيلكم كراسي فسلوني أعطكم قال فيسألونه قال فيشهدهم أنه قد رضي عنهم قال فيفتح لهم ما لم تر عين ولم تسمع أذن ولا يخطر على قلب بشر قال وذلكم مقدار انصرافكم من يوم الجمعة …. قال فليسوا إلى شيء أحوج منهم إلى يوم الجمعة ليزدادوا إلي ربهم نظرا وليزدادوا منه كرامة

Jibril pernah mendatangiku, dan di tangannya ada sesuatu seperti kaca putih. Di dalam kaca itu, ada titik hitam. Aku pun bertanya, “Wahai Jibril, ini apa?” Beliau menjawab, “Ini hari Jumat.” Saya bertanya lagi, “Apa maksudnya hari Jumat?” Jibril mengatakan, “Kalian mendapatkan kebaikan di dalamnya.” Saya bertanya, “Apa yang kami peroleh di hari Jumat?” Beliau menjawab, “Hari jumat menjadi hari raya bagimu dan bagi kaummu setelahmu. Sementara, orang Yahudi dan Nasrani mengikutimu (hari raya Sabtu–Ahad).” Aku bertanya, “Apa lagi yang kami peroleh di hari Jumat?” Beliau menjawab, “Di dalamnya, ada satu kesempatan waktu; jika ada seorang hamba muslim berdoa bertepatan dengan waktu tersebut, untuk urusan dunia serta akhiratnya, dan itu menjadi jatahnya di dunia, maka pasti Allah kabulkan doanya. Jika itu bukan jatahnya maka Allah simpan untuknya dengan wujud yang lebih baik dari perkara yang dia minta, atau dia dilindungi dan dihindarkan dari keburukan yang ditakdirkan untuk menimpanya, yang nilainya lebih besar dibandingkan doanya.” Aku bertanya lagi, “Apa titik hitam ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah kiamat, yang akan terjadi di hari Jumat. Hari ini merupakan pemimpin hari yang lain menurut kami. Kami menyebutnya sebagai “yaumul mazid”, hari tambahan pada hari kiamat.” Aku bertanya, “Apa sebabnya?” Jibril menjawab, “Karena Rabbmu, Allah, menjadikan satu lembah dari minyak wangi putih. Apabila hari Jumat datang, Dia Dzat yang Mahasuci turun dari illiyin di atas kursi-Nya. Kemudian, kursi itu dikelilingi emas yang dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian, datanglah para nabi, dan mereka duduk di atas mimbar tersebut. Kemudian, datanglah para penghuni surga dari kamar mereka, lalu duduk di atas bukit pasir. Kemudian, Rabbmu, Allah, Dzat yang Mahasuci lagi Mahatinggi, menampakkan diri-Nya kepada mereka, dan berfirman, “Mintalah, pasti Aku beri kalian!” Maka mereka meminta ridha-Nya. Allah pun berfirman, “Ridha-Ku adalah Aku halalkan untuk kalian rumah-Ku, dan Aku jadikan kalian berkumpul di kursi-kursi-Ku. Karena itu, mintalah, pasti Aku beri!” Mereka pun meminta kepada-Nya. Kemudian Allah bersaksi kepada mereka bahwa Allah telah meridhai mereka. Akhirnya, dibukakanlah sesuatu untuk mereka, yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. Dan itu terjadi selama kegiatan kalian di hari jumat …. sehingga tidak ada yang lebih mereka nantikan, melebihi hari Jumat, agar mereka bisa semakin sering melihat Rabb mereka dan mendapatkan tambahan kenikmatan dari-Nya.” (H.r. Ibnu Abi Syaibah, Thabrani dalam Al-Ausath, Abu Ya’la dalam Al-Musnad, dan statusnya hasan atau sahih, sebagaimana keterangan Abdul Quddus Muhammad Nadzir)

Terlarangnya puasa jika dilakukan pada hari Jumat saja

Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk melakukan puasa di hari Jumat saja, padahal saat hari Kamis, dia tidak berpuasa, dan di hari Sabtu, dia juga tidak puasa.

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إِلاَّ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika telah berpuasa sehari sebelumnya atau akan puasa sehari setelahnya.” (H.r. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,

نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يفرد يوم الجمعة بصوم

“Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyendirikan hari Jumat untuk berpuasa.” (H.r. Ahmad; sanadnya dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)

3. Dari Junadah Al-Azdi; beliau mengatakan,

دخلت على رسول الله صلى الله عليه و سلم في سبعة نفر من الأزد أنا ثامنهم يوم الجمعة ونحن صيام فدعانا رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى طعام بين يديه فقلنا انا صيام قال هل صمتم أمس قلنا لا قال فهل تصومون غدا قلنا لا قال فافطروا ثم خرج إلى الجمعة فلما جلس على المنبر دعا بإناء من ماء فشربه والناس ينظرون إليه ليعلمهم أنه لا يصوم يوم الجمعة

“Saya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat bersama tujuh orang dari suku Azd, dan saya adalah orang kedelapan. Saat itu, kami sedang berpuasa. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang kami untuk makan di depannya. Kami pun mengatakan, ‘Saya sedang puasa.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kemarin kalian puasa?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah besok kalian akan berpuasa?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Berbukalah!’ Lalu beliau berangkat shalat Jumat. Ketika beliau di atas mimbar, beliau minta dibawakan air, kemudian beliau minum dan orang-orang melihatnya, untuk mengajari mereka bahwa beliau tidak berpuasa di hari Jumat.” (H.r. Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar)

4. Dari Ummul Mukminin, Juwairiyah binti Al-Harits radhiallahu ‘anha; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenemuinya di hari Jumat, sementara dia sedang berpuasa. Beliau bertanya, “Apakah kemarin kamu puasa?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah besok kamu mau puasa?” Beliau menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Berbukalah!” (H.r. Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Abi Syaibah)

5. Dari Laila, istri Basyir radhiallahu ‘anhuma; beliau mengatakan, “Sesungguhnya, Basyir bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bolehkah saya berpuasa di hari Jumat dan tidak berbicara dengan seorang pun di hari itu?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

لا تصم يوم الجمعة الا في أيام هو أحدها أو في شهر وأما أن لا تكلم أحدا فلعمرى لأن تكلم بمعروف وتنهى عن منكر خير من ان تسكت

‘Janganlah kamu berpuasa di hari Jumat, kecuali jika kamu berpuasa beberapa hari –salah satunya adalah hari Jumat– atau puasa sebulan. Adapun tentang dirimu yang tidak ingin berbicara dengan seorang pun maka sungguh engkau berbicara yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran itu lebih baik daripada engkau diam.” (H.r. Ahmad, Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, dan Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Tidak boleh mengkhususkan hari Jumat untuk shalat malam
Sebagian orang beranggapan bahwa kita dianjurkan untuk memperbanyak shalat tahajud di malam Jumat karena malam ini memiliki keutamaan yang banyak. Anggapan ini adalah anggapan yang salah karena Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk mengkhususkan malam Jumat untuk ibadah.

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تختصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk tahajud dan meninggalkannya di malam yang lain. Jangan pula mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa, kecuali dalam rangkaian puasa kalian.” (H.r. Muslim)

2. Dari Muhammad bin Sirrin; beliau mengatakan,
Dahulu, Abu Darda’ menghidupkan malam Jumat dengan ibadah, dan beliau berpuasa di siang harinya. Suatu ketika, datanglah Salman –dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaudarakan keduanya– kemudian beliau tidur di rumahnya. Salman pun memperhatikan Abu Darda’ dan tidak membiarkannya, sampai Abu Darda’ tidur dan tidak berpuasa. Maka datanglah Abu Darda’ menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan perjumpaannya dengan Salman. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Uwaimir (nama asli Abu Darda’), Salman lebih tahu daripada kamu. Janganlah mengkhususkan malam Jumat untuk shalat dan siang harinya untuk puasa.” (H.r. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf)

Anjuran untuk membaca surat khusus ketika shalat subuh di hari Jumat
Dianjurkan bagi orang yang melaksanakan shalat subuh di hari Jumat untuk membaca surat As-Sajdah di rekaat pertama dan surat Al-Insan di rekaat kedua.

1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika shalat subuh di hari Jumat, membaca “alif-lam-mim, as-sajdah” (surat As-Sajdah) dan “hal ata ‘alal insani …” (surat Al-Insan). Sementara, pada shalat Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Jumu’ah dan surat Al-Munafiqun. (H.r. Muslim dan Abu Daud)

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan, “Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika shalat subuh di hari Jumat, membaca ‘alif-lam-mim … tanzil, as-sajdah‘ (surat As-Sajdah) dan ‘hal ata ‘alal insani‘ (surat Al-Insan).” (H.r. Bukhari dan Muslim)

Sebagian malaikat duduk di depan pintu masjid
Di hari Jumat, Allah mengutus beberapa malaikat untuk berjaga di pintu masjid, mencatat setiap orang yang datang jumatan sebelum khatib naik mimbar.

1. Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا كان يوم الجمعة قعدت الملائكة على أبواب المسجد فيكتبون الناس من جاء من الناس على منازلهم فرجل قدم جزورا ورجل قدم بقرة ورجل قدم شاة ورجل قدم دجاجة ورجل قدم عصفورا ورجل قدم بيضة قال فإذا أذن المؤذن وجلس الإمام على المنبر طويت الصحف ودخلوا المسجد يستمعون الذكر

“Apabila hari Jumat datang, para malaikat duduk di depan pintu masjid-masjid. Mereka mencatat setiap orang yang datang sesuai dengan waktu kedatangan mereka. Ada orang yang seperti berkurban unta, ada yang seperti berkurban sapi, ada yang seperti berkurban kambing, ada yang seperti berkurban ayam, ada yang seperti berkurban burung, dan ada yang seperti berkurban telur. Ketika muazin melakukan azan dan imam sudah duduk di mimbar maka buku catatan ditutup dan mereka masuk masjid, mendengarkan khotbah.” (H.r. Ahmad; sanadnya dinilai hasan oleh Syu’aib Al-Arnauth)

2. Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu; beliau mengatakan,

إذا كان يوم الجمعة قامت الملائكة بأبواب المسجد فيكتبون الناس على منازلهم الاول فإن تأخر رجل منهم عن منزله دعت له الملائكة يقولون اللهم إن كان مريضا فاشفه اللهم إن كانت له حاجة فاقض له حاجته فلا يزالون كذلك حتى إذا خرج الامام طويت الصحف ثم ختمت فمن جاء بعد نزول الامام فقد أدرك الصلاة ولم يدرك الجمعة

“Apabila hari Jumat datang, malaikat berjaga di pintu-pintu masjid. Mereka mencatat setiap orang yang datang sesuai tingkat kedatangannya. Apabila ada orang yang telat datang maka malaikat ini berdoa untuknya. Mereka memanjatkan doa, ‘Ya Allah, jika dia sakit maka sembuhkanlah dia, dan jika dia punya kepentingan maka selesaikanlah kebutuhannya.’ Mereka terus melakukan hal itu, sampai imam datang. Ketika imam datang, buku catatan ditutup kemudian distempel. Barang siapa yang datang setelah imam turun maka dia hanya mendapatkan shalat dan tidak mendapatkan jumatan”.

Keterangan:
Sanad hadis ini hasan. Hanya saja, statusnya mauquf sampai Abu Umamah. Artinya, ini adalah perkataan Abu Umamah radhiallahu ‘anhu.

Di hari jumat terdapat satu waktu yang mustajab
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyinggung hari Jumat, kemudian beliau bersabda,

فيه ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلي يسأل الله تعالى شيئا إلا أعطاه إياه

“Di hari Jumat, ada satu waktu, apabila ada seorang muslim melakukan shalat dan dia memohon sesuatu kepada Allah, pasti Allah beri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu itu hanya sebentar. (H.r. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خير يوم طلعت فيه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه تقوم الساعة وفيه ساعة لا يسأل الله عز و جل فيها عبد يصلى خير الا أعطاه الله وقللها وقال بيده هكذا انها قليلة

“Hari terbaik saat matahari terbit adalah hari Jumat. Di hari ini, Adam diciptakan; di hari ini pula, kiamat terjadi; di hari Jumat terdapat satu waktu, apabila ada seorang hamba yang shalat, memohon kepada Allah di waktu itu, maka Allah akan memberikan pintanya.” (H.r. Abu Daud Ath-Thayalisi; statusnya hasan lighairihi)

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن في الجمعة ساعة لا يوافقها مسلم وهو في صلاة يسأل الله خيرا الا آتاه إياه قال وقللها

“Sesungguhnya, di hari Jumat, ada satu waktu; tidaklah seorang muslim yang shalat, dia memohon kebaikan kepada Allah, dan bertepatan dengan waktu tersebut, kecuali Allah pasti akan mengabulkannya.” (H.r. Ahmad; statusnyasahih)

Anjuran memperbanyak salawat di hari Jumat

1. Dari Aus bin Aus radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا على من الصلاة فيه فان صلاتكم معروضة على فقالوا يا رسول الله وكيف تعرض عليك صلاتنا وقد أرمت يعنى وقد بليت قال إن الله عز و جل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء صلوات الله عليهم

“Di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan. Oleh sebab itu, perbanyaklah membaca salawat untukku di hari Jumat karena salawat kalian ditunjukkan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana salawat itu ditunjukkan kepada Anda padahal Anda telah menjadi tanah (mati)?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi –shallallahu ‘alahim ajma’in–.” (H.r. Ahmad; sanadnya dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)

2. Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاةِ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ , فَإِنَّ صَلاةَ أُمَّتِي تُعْرَضُ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ , فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَيَّ صَلاةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّي مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah membaca salawat untukku setiap hari Jumat, karena salawat umatku ditunjukkan kepadaku setiap hari Jumat. Siapa saja yang paling banyak salawatnya untukku maka dia adalah orang yang paling dekat kedudukannya denganku”.

Keterangan:
Status hadis ini diperselisihkan oleh para ulama ahli hadis. Ada yang menilainya kuat dan ada yang menilainyadhaif. Di antara ulama yang menilainya dhaif adalah Imam Adz-Dzahabi dan Syekh Nashiruddin Al-Albani. Adapun ulama yang menerima hadis ini di antaranya adalah As-Suyuti. Hadis ini juga disebutkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib; beliau mengatakan, “Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad hasan.”

Kiamat terjadi di hari Jumat
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أخرج منها ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة

“Hari terbaik saat matahari terbit adalah hari Jumat. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam dimasukkan ke surga; di hari itu pula, Adam dikeluarkan dari surga; dan kiamat tidak akan terjadi kecuali di hari Jumat.” (H.r. Muslim, Ahmad, dan Turmudzi)

Orang yang meninggal di hari Jumat akan dilindungi dari fitnah (ujian) alam kubur
Dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة الا وقاه الله فتنة القبر

“Tidaklah seorang muslim yang meninggal di hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan lindungi dirinya dari fitnah (ujian) alam kubur.” (H.r. Ahmad; dinilai sahih oleh Ahmad Syakir serta Al-Albani)

Anjuran membaca surat Al-Kahfi pada malam atau siang hari Jumat
1. Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (H.r. Ad-Darimi; Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)
2. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (H.r. An-Nasa’i dan Baihaqi; Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

• Penulis adalah : Ustadz Ammi Nur Baits

Senin, 04 Juli 2016

Zakat Fitrah Media Penyempurna Puasa Ramadhan

Ilustrasi: http://www.ansharusyariah.com/. • Mediamuallaf.com
Oleh: Hasrian Rudi Setiawan, MPdI
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 110).

Ramadhan sebentar lagi akan berakhir meninggalkan kita, dan ramadhan akan kembali kepada Allah dengan membawa berbagai macam rekaman amal perbuatan manusia, yang semuanya akan dilaporkan kepada Allah SWT. Kemudian setiap amal-amal manusia tersebut akan diseleksi mana yang tergolong amalan unggulan, mana yang pertengahan dan mana yang tereliminasi. Maka beruntunglah orang-orang yang telah berusaha keras mengisi bulan Ramadhan ini dengan berbagai amal ibadah seperti puasa, shalat tarawih, tahajud, shadaqah, tadarus, memberi makanan orang yang berbuka puasa. Mereka yang melaksanakan amalan-amalan di dalam bulan ramadhan dengan hati yang ikhlas akan menerima ganjaran pahala dari Allah dan tentunya akan mendapat predikat takwa. Karena itu, ketika ramadhan pergi dari kita jangan sampai kita tercatat menjadi sosok seorang hamba yang miskin pahala dan amal.

Ada suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang muslim selain harus menyelesaikan ibadah puasa, yaitu zakat fitrah. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW, yang artinya: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari segala perbuatan yang sia-sia dan kotor serta untuk berbagi dengan kalangan fakir miskin“ (HR Abu Daud).

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mewajibkan untuk membayar zakat fitrah, yang fungsinya adalah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa, yaitu orang yang ketika menjalankan puasa melakukan perbuatan yang sia-sia, tutur kata yang keji dan kotor. Kemudian zakat fitrah juga berfungsi untuk memberikan makanan kepada golongan fakir dan miskin untuk saling berbagi.  Inilah sebenarnya posisi dari zakat fitrah terhadap puasa ramadhan. Membayar zakat adalah salah satu kewajiban dalam Islam, karena zakat adalah merupakan salah satu bagian dari rukun islam. Dalam bulan suci Ramadhan seorang muslim di wajibkan untuk membayar zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan zakat yang wajib di keluarkan oleh setiap muslim baik itu laki-laki, perempuan besar ataupun kecil, merdeka ataupun budak pada hari raya Idul Fitri bilamana pada dirinya terdapat kelebihan makan pada hari tersebut.

Dalam Islam zakat fitrah pertama kali mulai disyariatkan pada bulan Sya'ban tahun ke dua hijriyah. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Rasululah SAW mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan, sebanyak satu sha’ dari makanan kurma atau syair (gandum) atas tiap-tiap orang merdeka atau hamba laki-laki atau pun perempuan muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa kadar zakat fitrah adalah satu sha’, para ulama berbeda pendapat mengenai arti dari pada satu sha’ tersebut, ada  yang berpendapat bahwa satu sha itu senilai dengan 2,5 kg, ada pula yang berpendapat bahwa satu sha’ itu kira-kira seukuran 2,7 kg. Namun terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, hendaknya bagi yang memiliki kelebihan harta kewajiban berzakat tersebut adalah kewajiban yang mutlak harus dibayarkan, mengenai berapa ukuran yang di bayarkanya tersebut terserah kepada pribadi seorang muslim sendiri boleh dengan 2,5 kg, boleh juga dengan 2,7 kg.

Zakat fitrah dapat dibayarkan mulai dari awal bulan ramadhan, hingga sebelum salat 'Ied, jika ada yang membayar zakat fitrah sebelum salat 'Ied maka zakatnya tersebut tergolong sah dan diterima sebagai zakat fitrah. Namun jika dibayarkan sesudah salat 'Ied, maka itu bukanlah zakat fitrah lagi, hanya dicatat sebagai sedekah biasa. Hal ini sebagaimana hadits nabi, yang artinya:“….barangsiapa yang menunaikannya sebelum salat 'Ied maka itulah zakat yang diterima. Dan barang siapa yang menunaikannya sesudah salat 'Ied maka sadaqahnya itu merupakan sadaqah biasa” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni).

Zakat fitrah merupakan suatu kewajiban bagi kita, karena itu bagi yang memiliki kelebihan makan bagi dirinya dan keluarganya maka diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Semoga kita dapat menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan Allah serta menjadi insan yang takwa.

• Penulis adalah Dosen FAI UMSU.